Makna Inflasi, AWAS JEBAKAN BANKIR!!!

 

Bagaimana Anda menanggapi pernyataan bahwa karena emas dan perak merupakan komoditas, nilai mereka berasal dari biaya produksi dan juga tunduk pada inflasi-deflasi?

Benar, emas dan perak adalah komoditas. Tetapi nilai yang ada tidak berasal dari ongkos produksi tetapi dari nilai pasar. Ongkos produksi penambangan emas bervariasi dari seratus dolar per ons sampai lebih dari seribu dolar per ons, namun harga emas secara universal sama. Tapi ketika sampai pada istilah inflasi saya akan memberitahu mereka bahwa istilah “inflasi” berasal dari sihir ilmu palsu yang disebut Ekonomi dan karena itu setiap upaya untuk memahami dunia dengan ilmu sihir ini akan menjadi ilusi monumental.

Awalnya istilah “inflasi” pertama kali digunakan selama Perang Saudara di Amerika mengikuti perkembangan mata uang nota bank swasta yang dicetak selama periode itu. Istilah “inflasi” merujuk langsung ke depresiasi mata uang yang terjadi akibat jumlah nota bank melampaui jumlah logam yang tersedia untuk penebusan mereka. Istilah inflasi kemudian dirujuk ke devaluasi mata uang, dan bukan kenaikan harga barang.

Tak perlu dikatakan itu dipandang sebagai penyalahgunaan kekuasaan dan penipuan. Untuk mengambil “panas” dari istilah ini para penyihir (para ekonom) mengekstrapolasikan istilah ini kepada harga komoditas, kadang-kadang disebut inflasi harga. Mereka lantas menerima istilah ini sebagai fakta, ini ibarat menerima perampokan sebagai bagian alamiah dari perilaku manusia.

Setiap komoditas di pasar mengalami fluktuasi harga karena tergantung kepada harga yang ditawarkan dan permintaannya. Dan ini sesuatu yang sehat. Tapi ini berbeda dari fenomena kenaikan buatan akibat pasokan uang yang kita derita hari ini. Uang kertas tidak menghasilkan pasar bebas karena merupakan monopoli itu sendiri. Dan di sinilah terletak penggunaan voodoo lebih lanjut dari kata “pasar bebas”, seperti yang dilakukan oleh para penyihir. Pasar bebas hanya dapat terjadi jika tidak ada monopoli, khususnya pada pasokan uang.

Istilah “inflasi/deflasi” tidak bisa digunakan untuk memahami perilaku komoditas di pasar bebas. Dan karena itu segala sesuatu yang berlaku bagi pemahaman mereka tentang inflasi tak ada hubungannya dengan persoalan kita. Jika mereka mencoba menggunakan argumen untuk mengatakan kepada Anda bahwa emas seperti uang kertas dalam hal inflasi, itu menunjukkan mereka tidak mengerti apa itu inflasi. Dan posisi Anda dalam membela penggunaan komoditas sebagai uang juga tidak ada hubungannya dengan harga. Hal ini lebih berhubungan dengan kebebasan. Jadi, jika seorang penyihir mencoba untuk berpendapat bahwa Anda harus lebih memilih uang kertas mereka, jawaban Anda adalah “Saya mengerti di mana Anda berdiri (dengan senyum menyeringai), namun keputusan untuk memilih alat tukar ini adalah milik saya, bukan milik Anda atau siapapun. Saya berdiri demi kebebasan karena saya seorang Muslim”.

Tapi sejujurnya, untuk mencoba dan menjelaskan apa itu Ekonomi kepada ekonom, adalah seperti mencoba menjelaskan siapa Yesus, rahimahullah, pada seorang Kristen. Mereka tidak bisa berpikir. Jadi, jangan mencoba untuk membujuk mereka dengan argumen. Ketika mereka datang kepada saya dan mereka datang cukup sering karena mereka tahu saya sama sekali tidak toleran dengan ilmu voodoo mereka dan saya menganggap mereka sebagai telah mengalami cuci otak, hal pertama yang saya katakan kepada mereka adalah “betapa sedihnya saya atas pilihan karir mereka, secara mubazir telah menghabiskan waktu belajar untuk suatu omong kosong dan saya akan memperingatkan mereka bagaimana sulitnya bagi mereka untuk memahami dan beradaptasi dengan dunia normal yang membuat mereka benar-benar tidak mampu memahami Islam.”

*Syakh Umar Ibrahim Vadillo adalah ulama besar asal Granada, Spanyol. Dia pelopor agar umat Islam sedunia kembali menggunakan mata uang as Sunnah, Dinar (emas) dan Dirham (perak). Oleh Syakh Abdalkadir as Sufi, dia disebut sebagai faqih nomor satu yang dimiliki umat Islam era kini, dalam bidang finansial.

Ketika Kaisar Romawi Bertekuk Lutut di depan Khalifah Islam

Tahun 1070 M, terjadi perang besar di Mazinkert. Romawi menyerbu pasukan Islam dengan kekuatan 200.000 pasukan. Tapi pasukan Islam di bawah pimpinan Khalifah Alp Arsalan berhasil mengalahkan mereka dengan kekuatan 20.000 pasukan saja. Kaisar Romawi pun dihukum cambuk.

MAHKAMAH.CO, Jakarta,- Kisah ini berlangsung di tahun 1070 M lalu. Bertepatan dengan 463 H. Kala itu kekuasaan dunia berpusat pada dua kekuatan, Islam dan Romawi. Romawi berpusat di Konstantinopel. Saat itu kerajaan kebanggaan Eropa itu dipimpin oleh Kaisar Romanus Diogenes IV.

Pasukan Islam memang terus melakukan penaklulan di sepanjang wilayah Romawi. Mulai dari futuhnya Damaskus, di abad 7, hingga kemudian merambah kepada wilayah-wilayah kekuasaan Romawi lainnya. Melihat kedigdayaan Islam, Romawi pun merencanakan penyerangan besar-besaran. Romanus menggalang kekuatan dan pasukan terbesar sepanjang sejarah. Dia mengerahkan sekitar 200.000 pasukan lebih untuk menyerbu pasukan Islam.

Kala itu pasukan Islam di bawah komandi Dinasti Saljuk. Sultannya bernama Alip Arsalan. Dia Sultan yang sangat sholeh. Penulis sejarah dunia asal Mesir, Ramzi Al Munyawi, menuturkan, Alip adalah seorang pemimpin yang piawai dan pemberani. Ia juga orang yang sangat bersemangat untuk berjihad di jalan Allah dan menyebarkan dakwah Islam ke dalam negara Kristen yang bertetangga dengannya, seperti Armenia dan Romawi. Ia sangat antusias menyebarkan dan memperjuangkan Islam di kawasan-kawasan tersebut, serta mengibarkan panji Islam ke wilayah-wilayah yang masuk kekuasaan Romawi.

Memang kala Alip menjadi Sultan, dia memimpin banyak penaklukan. Sejumlah wilayah Romawi berhasil ditaklukkan pasukan Islam. Hal inilah yang membuat Romanus kewalahan. Puncaknya, Romanus menggalang kekuatan pasukan besar untuk menghalau Alip dan pasukan Islam.
Alhasil, di tahun 1070 itu, pertempuran besar di abad itu pun berlangsung. Ibnu Katsir, menjabarkan terang tentang peperangan Mazinkert itu. Dia mengkisahkan :

“Pada tahun itu, Raja Romawi, Romanus, mulai maju menyerang dengan dalam sebuah gelombang pasukan besar seperti gunung, yang terdiri dari pasukan Romawi, Rukh (Roc) dan tentara kerajaan Eropa. Mereka datang dengan jumlah dan perbekalan yang sangat besar. Ia juga didampingi oleh 3000 komandan pasukan, yang masing-masing komandan membawahi 100 prajurit berkuda. Ikut serta pula 35.000 orang tentara Eropa, 15.000 prajurit perang yang selama ini tinggal di Konstantinopel, 100.000 tukang penggali dan penjebol benteng dan 1000 arsitek.
I
kut pula bersamanya 400 gerobak yang mengangkut sandal dan paku, 2000 gerobak yang mengangkut senjata, pelita, pelontar kecil dan besar yang diantaranya adalah pelontar yang disiapkan 1200 orang. Salah satu tekadnya adalah membinasakan Islam dan para pengikutnya.”

Pasukan Romawi itu merupakan kekuatan terbesar dalam kurun waktu kala itu. Romawi berniat untuk membumihanguskan Islam dan seluruh pengikutnya.

Alip Arsalan sebagai Khalifah, mengetahui gelagat Romawi itu. Dia pun menyiapkan pasukan sebanyak 20.000 untuk melawan ratusan prajurit Romawi itu. Alip membawa pasukannya di sebuah tempat bernama Az Zahwah, tepat pada hari Rabu, 5 hari yang tersisa dari bulan Dzulqaidah.

Setelah berhadap-hadapan, kedua pasukan siap bertempur. Melihat banyaknya pasukan Romawi, mulanya Alip sempat gementar juga. Tapi seorang ulama besar, Abu Nash Muhammad bin Abdul Malik Al Bukhari memberinya nasehat. Abu Nash menyarankan agar pertempuran dimulai di hari Jumat setelah matahari tergelincir, ketika para khatib memanjatkan doa untuk para mujahidin. Ternyata hal itu berbuah matang.

Ketika saatnya tiba, Sultan Alip turun dari kudanya. Dia bersujud kepada Allah SWT, lalu melumuri wajahnya dengan tanah dan berdoa kepada Allah memohon kemenangan dari-Nya. Ternyata doa Sultan Alip berbuah. Pasukan Islam menorehkan kemenangan. Romawi kalah telak dalam pertempuran Mazinkert yang bersejarah itu.

Romanus, sang Kaisar Romawi sempat ditawan. Dia di bawa ke hadapan Sultan Alip. Begitu di depannya, Sultan Alip memukulnya 3 kali cambukan dengan tangannya.

Lalu Sultan Alip bertanya,
“Jika aku yang menjadi tawanan di hadapanmu, apa yang engkau akan lakukan?”
Romanus, Kaisar Romawi itu menjawab enteng, “Aku akan melakukan semua yang buruk,” katanya

Sultan Alip kemudian berkata lagi, “Menurutmu, apa yang akan aku lakukan kepadamu?”
“Mungkin engkau akan membunuhku lalu memamerkan mayatku di negerimu,” tutur Romanus, sang Kaisar Romawi itu.

Sultan Alip menjawab ringan. “Tidak, aku tidak akan melakukan itu. Aku akan member hukuman yang lebih berat. Aku akan membebaskanmu,” tutur Sang Sultan Alip itu.

Romanus kemudian berdiri di hadapan Sultan dan meminum air yang diberikan Sultan Alip itu. Dia kemudian mencium lantai yang ada didepannya, lalu lantai yang menghadap ke Sultan Alip sebagai sebuah bentuk penghormatan dan keagungan Khilafah. Sultan Alip pun memberinya 10.000 dinar untuk menjadi bekalnya kembali ke Konstantinopel, ibukota Romawi, tempat singgasana Romanus berada.

Sultan Alip memerintahkan pasukan Islam untuk mengawal Romanus kembali ke Konstantinopel hingga jarak 1 fasakh ( di luar kota). Pasukan itu membawa panji yang bertuliskan “La illah illallah Muhammad Rasulullah”.

Ekonomi rakyat ? Sebuah impian dan harapan…

    Mengapa saya membuat judul seperti di atas ? Mungkin bagi sebagian besar pembaca berkata dalam hati, “ah…sok penting aja, ngapain mikir ekonomi rakyat…, mikir diri sendiri aja susah…” (hehehe…).

    Memang benar saya bukanlah pejabat atau orang penting. Namun ini semua berangkat dari pengalaman saya sebagai marketing di sebuah koperasi jasa keuangan syariah. Di koperasi tersebut, saya mempelajari banyak hal. Mulai dari akuntansi, manajemen, sampai ‘hal yang pribadi’ . Kalau ‘hal yang pribadi’ itu biarlah menjadi rahasia :)

    Koperasi, seperti yg saya tahu, melandaskan kegiatan berdasarkan prinsip gerakan ekonomi rakyat yang berdasarkan asas kekeluargaan. Koperasi merupakan kumpulan beberapa orang untuk mengadakan usaha bersama dan bertujuan menyejahterakan anggotanya,

    Namun, berdasarkan pengalaman dan pengamatan saya, koperasi sekarang banyak yang menjalankan usahanya seperti sebuah bank, dan modal koperasi berasal dari pemegang saham.

    Yang jadi pertanyaan, apakah koperasi sekarang bisa menjadi soko guru perekonomian bangsa ? Atau telah beralih ke sistem ekonomi kapitalis ? Pertanyaan ini hanya bisa dijawab oleh orang yang paham tentang perkoperasian yang sesungguhnya.

 

Diary singkat seorang bawahan…

Aku bekerja di kantor ini, sebuah koperasi yg katanya syariah, baru setahun, Namun aku banyak mendapatkan pelajaran berharga di kantor ini. Persaingan di antara para karyawan sangat tidak sehat, satu dengan yg lain saling menikam, walaupun di depan kelihatan baik-baik saja. Ditambah lagi, General Manajer koperasi ini sangatlah diktator dan tidak adil.

Aku mencoba bertahan karena aku bekerja dengan niat baik dan tidak akan neko-neko. Aku yakin ini cara Allah untuk menunjukkan realita yg sebenarnya dalam dunia kerja.

Yang bisa ku ucap hanyalah Alhamdulillah….thanks Allah for all….

 

Renungan singkat…

Ramadhan akan segera meninggalkan kita, sudahkah kita beramal sholeh selama bulan Ramadhan ? Akankah kita dipertemukan lagi dengan bulan Ramadhan tahun depan ? Sudahkah kita memperbanyak istighfar di bulan Ramadhan ?

Sempurnakan shaum kita dengan zakat fitrah dan memperbanyak sedekah ….