MEMISAHKAN FISIK-SAKIT DG JIWA-SEHAT,ATAU SEBALIKNYA

Manusia diciptakan oleh Allah terdiri dari 2 bagian, yaitu jiwa (psikis) dan fisik. Jiwa berhubungan dengan kondisi psikologis seseorang, misalnya sedih,senang,grogi,tegang,takut,dan sebagainya. Sedangkan fisik berhubungan dengan kondisi lahiriyah seseorang, misalnya tangan lecet,kepala pusing,dan sebagainya. Jiwa dan fisik adalah dua hal yang berbeda,saling berkaitan,dan bisa ‘dikelola’.
Contoh pertama…Ada seorang mahasiswa yang dihadapkan dengan kondisi akan menghadapi ujian skripsi. Saat itu mahasiswa tersebut kondisi jiwanya ‘sakit'(terganggu), yaitu tegang,grogi,dan sebagainya. Sedangkan kondisi fisik mahasiswa tersebut sehat. Kondisi jiwa yang ‘sakit’ itu bisa membuat fisik mahasiswa drop,misalnya sakit perut,keluar keringat dingin lalu pingsan.
Contoh kedua…Ada seorang yang menderita stroke hingga menyebabkan orang tersebut tidak mampu bangun dari tidurnya apalagi berjalan. Orang tersebut sadar dan tahu kalau dia tidak bisa berjalan. Namun orang itu harus tetap bekerja untuk menghidupi keluarganya dengan kondisi fisik seperti itu. Orang tersebut berkeyakinan bahwa dia tidak boleh kalah dengan penyakitnya. Dia menemukan bahwa fisik boleh sakit tapi jiwanya harus tetap sehat, dan satu-satunya modal yang dimiliki adalah otaknya. Akhirnya, walaupun tetap di ranjang dan tidak biosa berjalan, dia menjadi seorang penulis dan menghasilkan karya yang bermanfaat.
Dari dua contoh di atas,dapat dijelaskan sebagai berikut :
Pada contoh pertama,seseorang memiliki fisik yang sehat tapi jiwanya ‘sakit’. Jiwa orang tersebut mengalami ‘gangguan’ karena adanya faktor lingkungan yang tidak nyaman,yaitu ujian skripsi. Sedangkan fisik orang tersebut sehat. Seseorang bisa menjadi sakit secara fisik,misalnya sakit perut tiba-tiba,jika fisik orang tersebut terpengaruh jiwa yang ‘sakit'(misal :grogi) itu karena fisik ‘membenarkan’ jiwa yang ‘sakit’ tadi. Itulah yang namanya PSIKOSOMATIS dan stress.
Pada contoh kedua,orang terebut sadar jika fisiknya sakit,artinya jiwa orang tersebut sehat sehingga dia masih tetap bisa beraktivitas seperti orang yang normal. Jiwa orang tersebut ‘tidak terpengaruh’ oleh kondisi fisik yang sakit.
Jiwa dan fisik dapat ‘dipisahkan’ supaya terjadi keseimbangan dalam diri manusia. Memisahkan jiwa yang sehat dan fisik yang sakit,atau sebaliknya,hanya dapat dilakukan dengan mencapai ‘kesadaran’ sepenuhnya atas diri.
‘Kesadaran’ sepenuhnya atas diri,dikontrol oleh pikiran kita. Jika pikiran kita mampu mengontrol diri kita,maka akan tercipta kekuatan yang dahsyat dan mempengaruhi perilaku kita sehari-hari sehingga semua masalah akan menjadi mudah.
Saudaraku…
Ingatlah bahwa jiwa ini adalah milik Allah dan hanya Allah yang menggenggam jiwa kita. Selain itu,ingatlah akan firman Allah dalam hadits qudsi yang menjelaskan bahwa Allah sesuai dengan prasangka hambaNya. Jika manusia berprasangka baik,maka Allah akan memberikan yang baik pada hambaNya,begitu sebaliknya. Wallahu a’lam bish showab.

Satu pemikiran pada “MEMISAHKAN FISIK-SAKIT DG JIWA-SEHAT,ATAU SEBALIKNYA

  1. Nikmat terindah yang diberikan oleh Allah swt adalah nikmat sehat jasmani dan rohani… Karena dengan itu maka kita bisa melakukan segala hal termasuk untuk mendapatkan nikmat Allah yang lain…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s