Mukadimah

Setiap orang pasti mendambakan kebahagiaan dalam hidup. Namun tiap orang berbeda-beda dalam menafsirkan arti kebahagiaan. Hal ini tergantung dari masing-masing pemahaman dalam mindset seseorang.

Orang yang berpaham materialis dan kapitalis menganggap kebahagiaan adalah jika mempunyai harta yang melimpah, rumah ada di mana-mana, mobil tiap saat ganti, mempunyai saham di berbagai perusahaan, dan sebagainya. Namun ternyata hal itu tidak menjamin hidup seseorang itu bahagia. Bisa kita lihat betapa banyak orang kaya yang mempunyai harta kekayaan melimpah tapi hidupnya senantiasa gelisah. Gelisah memikirkan hartanya, gelisah bagaimana supaya hartanya tidak habis, gelisah bagaimana menyimpan hartanya supaya tidak dicuri orang, dan yang paling parah adalah gelisah memikirkan bagaimana menjadi orang terkaya dan mencari ‘tambahan’ kekayaan dengan menguasai harta orang lain.

Di sisi lain, ada orang yang tidak mempunyai apa-apa. Rumah hanya berukuran dua meter dan itu pun mengontrak. Hasil kerjanya hanya bisa untuk makan tiap hari dan membayar kontrakan tapi hidupnya tenang dan tidak pernah mengeluh. Kita mungkin bertanya, apa benar orang seperti itu tidak pernah mengeluh ? Sebagai manusia biasa yang normal pasti wajar kalau terkadang mengeluh. Nabi pun juga pernah berkeluh kesah dalam menyampaikan ajaran Islam. Tapi mereka kemudian menyadari bahwa tidak ada gunanya meratapi hidup yang serba kekurangan karena toh hidup di dunia cuma sekali, yang penting badan sehat dan bisa melakukan sesuatu yang bermanfaat bagi keluarga.

Saudaraku…

Dari dua contoh orang kaya dan orang miskin di atas, dapat kita ambil pelajaran bahwa tak selamanya harta kekayaan bisa menjamin kebahagiaan seseorang dan kemiskinan bisa menghalangi orang meraih kebahagiaan dalam hidup. Memang benar dengan mempunyai harta yang melimpah, kita bisa mencukupi semua kebutuhan kita tapi kekayaan yang kita punya kadang malah bisa membuat kita tambah gelisah. Bisa kita lihat di koran atau televisi bahwa kebanyakan orang yang sakit dan sampai berobat ke luar negeri itu adalah orang-orang yang kaya. Bahkan ada yang hartanya sampai habis hanya untuk membiayai pengobatan di luar negeri. Na’udzubillah.

Saudaraku…

Sekarang mari kita bertanya pada diri kita, apakah benar orang yang hartanya melimpah itu juga hidupnya bahagia ? Lalu, sebenarnya apa yang dimaksud dengan ‘kebahagiaan’ itu ? Bagaimana cara meraih ‘kebahagiaan’ itu ?

Kebahagiaan sejati itu terletak di hati, bukan terletak pada banyaknya materi. Mengapa orang yang mempunyai harta yang sedikit bahkan tak punya harta pun bisa bahagia, itu karena mereka menganggap bahwa yang penting hidup ini tidak ada beban, seperti misalnya beban bagaimana menyimpan hartanya supaya tidak habis dan dicuri orang, dan sebagainya. Tidak ada beban bukan berarti bermalas-malasan dalam bekerja dan hanya berpangku tangan saja. Mereka tetap bekerja keras namun mereka tidak menganggap bahwa harta bisa menjamin kebahagiaan hidup dan mereka juga sadar bahwa harta yang mereka dapat itu cuma ‘titipan’ dari Allah Swt jadi mereka tidak khawatir kalau harta itu hilang.

Saudaraku…

Orang yang memperoleh kebahagiaan itu ciri-cirinya adalah sebagai berikut :

1. Hati tenang dan tidak gelisah,

2. Pikiran selalu jernih sehingga dalam menyelesaikan suatu masalah bisa secara tepat,

3. Senyum selalu menghiasi bibir,

4. Tidur nyenyak,

5. Memancarkan aura positif,

6. Menginspirasi orang lain,

7. Orang lain yang bersamanya akan merasa nyaman, dan

8. Orang itu akan selalu bersemangat dalam menjalani hidup.

Kalau kita menemukan orang, atau mungkin kita, mempunyai ciri-ciri orang yang bahagia seperti di atas maka sangatlah beruntung sekali orang itu.

Saudaraku…

Pada bab-bab selanjutnya dari tulisan ini, penulis akan membeberkan kunci meraih kebahagiaan secara sederhana. Tulisan sederhana ini adalah hasil observasi dan pengalaman dari penulis dalam rangka menemukan arti kebahagiaan yang sejati. Adapun kunci meraih kebahagiaan adalah :

  1. Milikilah prinsip hidup yang kuat
  2. Hadapi masalah dengan tenang
  3. Mampu memisahkan antara jiwa yang sehat dengan fisik yang sakit atau sebaliknya
  4. Tidak membawa beban pikiran, masalah, hutang, dan sebagainya ke dalam tidur
  5. Mensyukuri atas apa yang kita dapat dan kita miliki
  6. Berusaha ikhlas jika antara harapan tidak sesuai dengan kenyataan

Apabila kita mampu menjalankan atau menerapkan kunci kebahagiaan tersebut, insya Allah kebahagiaan yang kita idam-idamkan akan terwujud. Untuk meraih kebahagiaan itu tidak dapat diperoleh sesara instant namun perlu latihan secara kontinyu dan istiqomah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s