Mengakui Kekurangan Orang Lain

   Seseorang telah berusia sepuh dan masih belum menikah. Ketika ditanyakan alasannya melajang, dia mengatakan bahwa dia selalu mencari pasangan yg sempurna. “Tetapi sampai saat ini, apakah Anda belum menemukannya?” ia ditanya. ” Suatu kali saya pernah menemukannya,” jawabnya, “tapi sayangnya dia juga sedang mencari pasangan yg sempurna, dan saya tidak termasuk orang yg dia cari.”

   Pada umumnya, manusia sangat ahli mendeteksi kesalahan orang lain. Karena itulah, mereka tidak pernah mampu untuk hidup bersama orang lain. Jika dia harus mencari kesalahannya daripada kesalahan orang lain, mereka menyadari bahwa mereka sama dengan orang yg mempunyai kesalahan. Kesadaran seseorang akan kekurangannya menjadikan orang tersebut punya rasa malu. Sebaliknya, jika seseorang hanya melihat kesalahan orang lain maka dia akan menjadi arogan dan lama-lama akan asing dengan orang lain.

   Adalah fakta psikologis bahwa tak ada seorang pun yg mampu merangkum seluruh sifat baik dan sempurna. Sementara itu sedikit orang suci, sedikit orang yg sangat jahat dalam hidup ini, dan banyak manusia yg memiliki kombinasi sifat keduanya. Bukan hal mudah memberikan label bagi seseorang bahwa dia benar-benar baik atau sebaliknya.

   Dalam harmonisasi suatu masyarakat, sisi buruk anggota-anggotanya harus ditoleransi, sementara sisi baiknya harus dihargai. Dengan cara ini, maka tidak akan ada bakat terpendam yg terabaikan dari masyarakat ini, dan perasaan kebersamaan akan muncul. Ini merupakan prinsip dalam semua hubungan. Jika kita ingin memetik ‘bunga’, maka kita juga harus memetik ‘duri’ yg menempel padanya sehingga dia akan dapat memiliki ‘bunga’ dalam kehidupan ini.

   Sangat baik menjadi seorang yg idealis, tetapi jika terus menerus mencari kesempurnaan dalam diri orang lain, maka dia pasti akan kecewa. Satu-satunya cara untuk dapat bekerja sama dengan orang lain adalah menerima bahwa tidak ada yg sampai pada standar idealnya, dan memberikan motivasi bagi mereka yg  tampaknya memiliki banyak kekurangan. Wallahu a’lam. 

dikutip dari : psikologi kesuksesan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s