Razia pengemis,sebuah pro-kontra

Penerapan Perda No 8/2007 Tentang Ketertiban Umum telah membuat 12 warga DKI ditangkap akibat memberi sedekah (www.detik.com).  Hal ini menimbulkan pro dan kontra di kalangan masyarakat. Yang pro mengatakan, razia pengemis dan gelandangan itu perlu supaya Jakarta bersih dari gelandangan dan pengemis. Yang kontra berpendapat, masa’ sedekah dilarang. Kalau Anda pilih mana?

Pilih pro atau kontra? Atau pilih apatis alias tidak pro dan tidak kontra alias cuek bebek?Kalau saya pribadi lebih milih pro. Kok bisa? ya bisa aja…. Alasan saya begini, saat ini menentukan mana pengemis yg asli atau pengemis gadungan itu sulit. Bahkan di Arab Saudi pun orang bisa jadi miliarder dengan bekerja sebagai pengemis. Mungkin inilah yg ditiru masyarakat kita.  Naudzubillah. Bahkan kalau di Indonesia lebih parah, para pengemis itu ada paguyubannya.

Sekarang kita kaji mengapa orang tidak malu menjadi pengemis. Pertama, budaya yg turun temurun. Kok bisa budaya turun temurun? Pada zaman penjajahan Belanda dulu, orang pribumi tidak akan bisa makan jika tidak mengemis pada orang kaya. Sehingga rakyat jadi malas dan menurun samapai anak cucu. Kedua, sejak zaman orba, kesejahteraan rakyat tidak merata. Hanya orang-orang yg dekat dengan penguasa yg hidupnya sejahtera dan itu berlangsung di zaman reformasi dimana banyak orang yg ngaku pro-rakyat tapi nyatanya malah ngibulin rakyat. Ketiga, budaya di Indonesia yg memandang rendah profesi pedagang dan mengunggulkan pekerjaan sebagai PNS sehingga rakyat enggan untuk berdagang kecil-kecilan. Dan keempat, di pemerintahan sekarang, adanya kebijakan pemberian BLT (Bantuan Langsung Tunai) yg membuat rakyat menjadi pemalas dan hanya menggantungkan hidup dari meminta-minta. Kalau kebijakan BLT ini terus di-lanjutkan maka siap-siap aja rakyat menjadi dependent alias tidak mandiri. Percuma kalau razia pengemis cuma di Jakarta, daerah lain mana? Harusnya dibikin Peraturan Pemerintah atau Undang-undang sehingga berlaku nasional.

Untuk bersedekah, zakat, atau infak, saya lebih setuju lewat Lembaga Resmi yg berkompeten karena mereka (LAZIS, Rumah Zakat, dll) punya SDM yg handal untuk melakukan survey ke daerah-daerah sehingga bantuan bisa sampai ke orang yg tepat. Sedekah,zakat atau infak yg mereka kumpulkan tidak hanya untuk sesaat namun bisa mendidik masyarakat untuk mandiri sehingga kesejahteraan akan merata.

Satu pemikiran pada “Razia pengemis,sebuah pro-kontra

  1. SETUJU!.

    barusan sy ada kejadian yg bikin sy search gugel soal pengemis.

    waktu jaga warnet, mana lg sepi ngga ada pelanggan.
    lg asik ngbrl tiba2 dtg pengamen bawa box kayu yg dipakein senar ban dalem ato apalah itu, warnanya item. maeninnya cm ditarik2 gt sambil nyanyi.
    baru dtg sdh sy wave hand, tandanya nolak ngasih uang.
    biasanya pengamen / pengemis lain sy kasi, tp hari ini sy abis nonton di tv acara dengarlah aku, org yg cacat aja masih bisa kerja, masa ini seger bugar cm ngamen,ungkapku dlm hati.

    tp tetep aj tu org maenin alatnya sbl nyanyi ga jelas.
    akirnya ku kasi dah. nah, yg bikin kesel tu org udh dikasi mlh ngomel.
    yah, seratus aj. bla bla bla..

    itulah gan susahnya klo org udh ketagihan minta2 n mau enaknya doang.
    sy aj jaga warnet 5jam sehari penghasilan ngga sbrp sebulan.
    tp syukurlah sy ngga perlu minta2 kaya org barusan dan kawan2nya.

    intinya sy ttp males kasi duit barang 100 ke org males. (mad)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s