Mengasah gergaji

Tulisan ini adalah lanjutan dari tulisan saya yang berjuduk ‘Rehat sejenak’. Setiap hari kita beraktivitas macam-macam, mulai dari aktivitas pribadi sampai aktivitas pekerjaan. Aktivitas harian kita tentunya sangat menguras pikiran kita. Betul?

Sobat, hidup manusia itu ibarat seperti seorang carpenter (tukang kayu) yang pekerjaannya setiap hari adalah memotong kayu dengan gergaji. Di sini tidak akan dibahas menggergaji kayu dengan gergaji manual atau gergaji mesin. Carpenter (tukang kayu) yang tiap hari memotong kayu pasti mengenal dengan baik gergajinya.

Alkisah, ada seorang yang bekerja di tempat usaha pembuatan mebel dari kayu. Orang tersebut hanya bertugas mengergaji kayu sesuai ukuran. Nah, orang tersebut mempunyai sebuah gergaji kesayangan dan tiap hari dibawa untuk bekerja. Orang tersebut bekerja dengan rajin sekali dan kayu yang dia potong selalu rapi hasilnya dan tidak pernah meleset sedikit pun dari ukuran. Dia menjadi orang kepercayaan bos-nya dan selalu dipuji hasil kerjaannya.

Suatu hari, si tukang pemotong kayu tadi ketika akan menggergaji kayu kebingungan. Pasalnya, kayu yang dia potong tidak putus-putus dan malah meninggalkan cacat di kayu yang dia potong. Kontan aja dia marah-marah kemudian membanting gergajinya. Melihat hal tersebut, bos-nya kemudian memanggil dia ke ruangannya. Bos-nya tadi bertanya ada apa kok marah-marah. Dia jawab kalau gergajinya tidak bisa digunakan untuk memotong dan dia seperti kehilangan kemampuannya. Tukang kayu tadi disuruh mengambil gergajinya dan setelah diambil maka diperiksa gergaji itu oleh si bos tersebut. Bos-nya kemudian bertanya lagi, kapan terakhir dia mengasah gergajinya. Di jawab oleh tukang kayu tadi, 2 bulan lalu karena dia terlalu sibuk bekerja sehingga dia lupa mengasah gergajinya. Si bos tadi tersenyum, lalu berkata pada tukang kayu tadi, ‘sekarang pulanglah dulu, asah gergajimu, kemudian besok bisa kembali bekerja lagi.’ Si tukang kayu tadi menuruti kata bos-nya dan esoknya dia kembali kerja lagi seperti sedia kala, tentunya dengan gergaji yang tajam.

Dari kisah di atas dapat diambil pelajaran bahwa sesibuk apapun kita, hendaklah meluangkan waktu sejenak (misalnya: saat hari lahir kita, ulang tahun perusahaan, atau waktu luang kapan pun) untuk beristirahat sambil memikirkan kekurangan apa yang telah kita lakukan kemarin lalu setelah itu memikirkan strategi dan langkah apa yang akan kita lakukan selanjutnya. Otak, hati,dan tubuh kita ibarat gergaji, jika terus menerus dipaksa bekerja maka akan mencapai titik jenuh sehingga akan menjadi tumpul. Otak, hati, dan tubuh kita butuh ‘diasah’ biar tajam intuisi dan daya kreativitasnya.

So…bekerjalah dengan tekun tapi jangan ngoyo seperti orang yang gila kerja (workaholic).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s