Pendidikan Karakter, sebuah keharusan

Dewasa ini, pemerintah melalui Kemendiknas meng-kampanyekan-kan ‘Pendidikan Karakter’. Kenapa meng-kampanyekan-kan ‘Pendidikan Karakter’? Ada apakah gerangan? Kenapa baru sekarang ‘pendidikan karakter’ didengungkan? Inilah berbagai pertanyaan yang ada di benak para pendidik termasuk Penulis.

Sebelum kita bahas, marilah kita flashback ke masa lalu. Dahulu di zaman Penulis masih sekolah di bangku SD dan SMP, ada mata pelajaran yang namanya PENDIDIKAN BUDI PEKERTI. Mata pelajaran tersebut mengulas berbagai perilaku yg baik dan cara bersopan santun, baik kepada orang tua, guru, atau orang lain. Dan, generasi yg dahulu mendapat pelajaran PENDIDIKAN BUDI PEKERTI sekarang alhamdulillah menjadi generasi yg santun dan menjadi contoh di masyarakat. Ini bukan menyombongkan diri tapi realita dan banyak contoh di lapangan.

Namun, sekarang begitu memprihatinkan. Salah satu contohnya adalah peristiwa pengrusakan mobil wakil rakyat dan gedung DPRD di Mojokerto hanya gara-gara kalah dalam pilkada. Tindakan tersebut sangat-sangat memalukan dan tidak dewasa. Cabup yg kalah protes dan pendukungnya merusak kendaraan dinas anggota dewan padahal kalau yg merusak itu mau BERPIKIR PAKAI OTAK BUKAN PAKAI DENGKUL, kendaraan anggota dewan yg dirusak itu dibiayai oleh uang rakyat! Begitu juga aksi pemukulan dan pengeroyokan terhadap aparat hanya gara-gara salah paham, menelan korban luka beberapa orang. Dan peristiwa-peristiwa lain.

Dari peristiwa-peristiwa tersebut dapat diambil pelajaran berharga buat kita betapa generasi sekarang benar-benar sudah mengalami dekadendi moral atau degradasi moral. Sebabnya apa? Ada beberapa hal yg menyebabkan degradasi moral, antara lain :

1. Kemiskinan. Betapa kemiskinan telah melupakan kewajiban orang tua untuk mendidik anak sehingga yg menjadi prioritas keluarga yg miskin adalah bagaimana mencari makan untuk hari ini, tak peduli bagaimana akhlak anaknya.

2. Tayangan televisi. Kalau tadi dikarenakan kemiskinan, sekarang orang yg kaya atau berada pun bisa membuat rusak generasi muda, yaitu dengan membiarkan anaknya menonton tayangan televisi tanpa dibimbing atau didampingi. Apalagi tayangan televisi sekarang benar-benar bobrok. Hampir 95% tayangan televisi menayangkan kekerasan, berita kerusuhan dan pembakaran, aksi terorisme, pembunuhan, korupsi, rekayasa politik, dan kekerasan-kekerasan lain. Bayangkan saja, dari anak bangun tidur sampai menjelang tidur lagi, beritanya seperti itu terus.

3. Lemahnya pendidikan agama dari orang tua. Orang tua zaman sekarang seolah tidak mau tahu bagaimana anak menjalankan agamanya, ketauhidan anak, dan perilaku anak. Orang tua zaman sekarang benar-benar total menyerahkan pendidikan agama pada instansi pendidikan formal padahal Madrasah yg paling utama adalah KELUARGA. Orang tua zaman sekarang mau dan berani mengeluarkan uang berapa pun jumlahnya asalkan anaknya pintar dalam bidang akademis, misal pintar matematika, fisika,dst. Tapi TIDAK MAU atau ENGGAN MENGELUARKAN UANG DEMI PENDIDIKAN AGAMA ANAKNYA. Contoh nyata yg penulis amati, ada orang tua yg MAU membayar mahal guru yg bisa mengajari anaknya Bahasa Inggris, Matematika, Fisika, dan pelajaran lain. Namun, ketika ada yg bersedia mengajari anaknya Membaca Qur’an atau Mengaji, bayaran buat guru ngaji pun hanya sangat-sangat minim dengan alasan mengajari mengaji atau membaca Qur’an itu  khan supaya dapat pahala bukan mencari uang. Memang benar mengajari mengaji atau mengajari membaca Qur’an itu untuk mencari pahala tapi Islam membolehkan bagi siapa pun yg bersedia mengajari membaca Qur’an untuk meminta bayaran. Alasannya adalah orang yg mengajari membaca Qur’an itu juga butuh uang untuk makan,transport, dan keperluan-keperluan lain. Jadi kalau guru mata pelajaran umum dan guru mengaji dibedakan masalah honor maka itu sama saja mencetak generasi-generasi perusak bangsa karena buat apa si anak pintar daslam bidang sains kalau akhlaknya buruk, itu sama saja bohong besar!

Jadi sebenarnya Pemerintah melalui Kemendiknas sebelum mengkampanyekan ‘Pendidikan Karakter’ hendaknya menyadari betul bahwa pendidikan moral dan akhlak pertama dan utama adalah di dalam KELUARGA bukan di sekolah atau lembaga pendidikan formal.

Demikian sedikit pemikiran dari penulis.Penulis minta tanggapan, masukan,feedback,saran, dan kritik dari pembaca. Mari kita bersama-sama bermujahadah untuk mendidik generasi muda sehingga tercipta generasi yang santun dan berakhlak mulia.Wallahu a’lam

Satu pemikiran pada “Pendidikan Karakter, sebuah keharusan

  1. Terpujilah orang yang mengajari qur’an dengan gaji yang sedikit itu..🙂
    Karena berarti itu membuktikan mereka hanya mengharapkan pahala dari allah.. Bukan materi🙂
    Guru ngajiku juga begitu,, dia tak mengharapkan uang.. Hanya suka rela paling di kasih kebutuhan pokok, sabun mandi dll..😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s