Ketika Kaisar Romawi Bertekuk Lutut di depan Khalifah Islam

Tahun 1070 M, terjadi perang besar di Mazinkert. Romawi menyerbu pasukan Islam dengan kekuatan 200.000 pasukan. Tapi pasukan Islam di bawah pimpinan Khalifah Alp Arsalan berhasil mengalahkan mereka dengan kekuatan 20.000 pasukan saja. Kaisar Romawi pun dihukum cambuk.

MAHKAMAH.CO, Jakarta,- Kisah ini berlangsung di tahun 1070 M lalu. Bertepatan dengan 463 H. Kala itu kekuasaan dunia berpusat pada dua kekuatan, Islam dan Romawi. Romawi berpusat di Konstantinopel. Saat itu kerajaan kebanggaan Eropa itu dipimpin oleh Kaisar Romanus Diogenes IV.

Pasukan Islam memang terus melakukan penaklulan di sepanjang wilayah Romawi. Mulai dari futuhnya Damaskus, di abad 7, hingga kemudian merambah kepada wilayah-wilayah kekuasaan Romawi lainnya. Melihat kedigdayaan Islam, Romawi pun merencanakan penyerangan besar-besaran. Romanus menggalang kekuatan dan pasukan terbesar sepanjang sejarah. Dia mengerahkan sekitar 200.000 pasukan lebih untuk menyerbu pasukan Islam.

Kala itu pasukan Islam di bawah komandi Dinasti Saljuk. Sultannya bernama Alip Arsalan. Dia Sultan yang sangat sholeh. Penulis sejarah dunia asal Mesir, Ramzi Al Munyawi, menuturkan, Alip adalah seorang pemimpin yang piawai dan pemberani. Ia juga orang yang sangat bersemangat untuk berjihad di jalan Allah dan menyebarkan dakwah Islam ke dalam negara Kristen yang bertetangga dengannya, seperti Armenia dan Romawi. Ia sangat antusias menyebarkan dan memperjuangkan Islam di kawasan-kawasan tersebut, serta mengibarkan panji Islam ke wilayah-wilayah yang masuk kekuasaan Romawi.

Memang kala Alip menjadi Sultan, dia memimpin banyak penaklukan. Sejumlah wilayah Romawi berhasil ditaklukkan pasukan Islam. Hal inilah yang membuat Romanus kewalahan. Puncaknya, Romanus menggalang kekuatan pasukan besar untuk menghalau Alip dan pasukan Islam.
Alhasil, di tahun 1070 itu, pertempuran besar di abad itu pun berlangsung. Ibnu Katsir, menjabarkan terang tentang peperangan Mazinkert itu. Dia mengkisahkan :

“Pada tahun itu, Raja Romawi, Romanus, mulai maju menyerang dengan dalam sebuah gelombang pasukan besar seperti gunung, yang terdiri dari pasukan Romawi, Rukh (Roc) dan tentara kerajaan Eropa. Mereka datang dengan jumlah dan perbekalan yang sangat besar. Ia juga didampingi oleh 3000 komandan pasukan, yang masing-masing komandan membawahi 100 prajurit berkuda. Ikut serta pula 35.000 orang tentara Eropa, 15.000 prajurit perang yang selama ini tinggal di Konstantinopel, 100.000 tukang penggali dan penjebol benteng dan 1000 arsitek.
I
kut pula bersamanya 400 gerobak yang mengangkut sandal dan paku, 2000 gerobak yang mengangkut senjata, pelita, pelontar kecil dan besar yang diantaranya adalah pelontar yang disiapkan 1200 orang. Salah satu tekadnya adalah membinasakan Islam dan para pengikutnya.”

Pasukan Romawi itu merupakan kekuatan terbesar dalam kurun waktu kala itu. Romawi berniat untuk membumihanguskan Islam dan seluruh pengikutnya.

Alip Arsalan sebagai Khalifah, mengetahui gelagat Romawi itu. Dia pun menyiapkan pasukan sebanyak 20.000 untuk melawan ratusan prajurit Romawi itu. Alip membawa pasukannya di sebuah tempat bernama Az Zahwah, tepat pada hari Rabu, 5 hari yang tersisa dari bulan Dzulqaidah.

Setelah berhadap-hadapan, kedua pasukan siap bertempur. Melihat banyaknya pasukan Romawi, mulanya Alip sempat gementar juga. Tapi seorang ulama besar, Abu Nash Muhammad bin Abdul Malik Al Bukhari memberinya nasehat. Abu Nash menyarankan agar pertempuran dimulai di hari Jumat setelah matahari tergelincir, ketika para khatib memanjatkan doa untuk para mujahidin. Ternyata hal itu berbuah matang.

Ketika saatnya tiba, Sultan Alip turun dari kudanya. Dia bersujud kepada Allah SWT, lalu melumuri wajahnya dengan tanah dan berdoa kepada Allah memohon kemenangan dari-Nya. Ternyata doa Sultan Alip berbuah. Pasukan Islam menorehkan kemenangan. Romawi kalah telak dalam pertempuran Mazinkert yang bersejarah itu.

Romanus, sang Kaisar Romawi sempat ditawan. Dia di bawa ke hadapan Sultan Alip. Begitu di depannya, Sultan Alip memukulnya 3 kali cambukan dengan tangannya.

Lalu Sultan Alip bertanya,
“Jika aku yang menjadi tawanan di hadapanmu, apa yang engkau akan lakukan?”
Romanus, Kaisar Romawi itu menjawab enteng, “Aku akan melakukan semua yang buruk,” katanya

Sultan Alip kemudian berkata lagi, “Menurutmu, apa yang akan aku lakukan kepadamu?”
“Mungkin engkau akan membunuhku lalu memamerkan mayatku di negerimu,” tutur Romanus, sang Kaisar Romawi itu.

Sultan Alip menjawab ringan. “Tidak, aku tidak akan melakukan itu. Aku akan member hukuman yang lebih berat. Aku akan membebaskanmu,” tutur Sang Sultan Alip itu.

Romanus kemudian berdiri di hadapan Sultan dan meminum air yang diberikan Sultan Alip itu. Dia kemudian mencium lantai yang ada didepannya, lalu lantai yang menghadap ke Sultan Alip sebagai sebuah bentuk penghormatan dan keagungan Khilafah. Sultan Alip pun memberinya 10.000 dinar untuk menjadi bekalnya kembali ke Konstantinopel, ibukota Romawi, tempat singgasana Romanus berada.

Sultan Alip memerintahkan pasukan Islam untuk mengawal Romanus kembali ke Konstantinopel hingga jarak 1 fasakh ( di luar kota). Pasukan itu membawa panji yang bertuliskan “La illah illallah Muhammad Rasulullah”.

Tak Berkategori

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s