Razia pengemis,sebuah pro-kontra

Penerapan Perda No 8/2007 Tentang Ketertiban Umum telah membuat 12 warga DKI ditangkap akibat memberi sedekah (www.detik.com).  Hal ini menimbulkan pro dan kontra di kalangan masyarakat. Yang pro mengatakan, razia pengemis dan gelandangan itu perlu supaya Jakarta bersih dari gelandangan dan pengemis. Yang kontra berpendapat, masa’ sedekah dilarang. Kalau Anda pilih mana?

Pilih pro atau kontra? Atau pilih apatis alias tidak pro dan tidak kontra alias cuek bebek? Baca lebih lanjut

Iklan

Wisata ‘Kemiskinan’

Jumat (12/6) jam 10.30 malam aku lihat acara di TV dengan tema ‘Wisata Kemiskinan’. Dalam tayangan tersebut tampak jelas beberapa orang asing mengunjungi daerah-daerah kumuh dan miskin seperti di pinggir rel kereta dan bantaran sungai. Mereka tidak hendak melakukan bakti sosial atau memberikan bantuan namun mereka ke sana karena berwisata melihat-lihat orang miskin. Bahkan ketika diwawancara oleh kru TV dan ditanya apa tujuan datang ke tempat seperti itu, mereka menjawab untuk berwisata karena kalau wisata ke Bali sudah biasa, dan wisata ke tempat orang miskin adalah wisata yg unik dan menarik. Mendengar jawaban itu, hati ini rasanya sedih, marah, miris,…pokoknya campur aduk….  ;-(

Melihat tayangan tersebut, aku jadi teringat ketiga pasang capres-cawapres yg saat ini ‘sibuk’ kampanye dan ‘menjual’ diri mereka pada rakyat. Jualan mereka bertiga adalah rakyat miskin. Mereka berkoar-koar sanggup mengentaskan kemiskinan dan sibuk mencari simpati rakyat kecil, dan kalau udah terpilih pasti lupa. Itu lagu lama..!!!!

Herannya, dalam tayangan tersebut tidak tampak ‘seekor’ pun orang-orang pejabat daerah. Mereka (pejabat daerah) seolah-olah bangga mempunyai ‘tempat wisata’ yg pemandangannya kemiskinan. Mereka (pejabat daerah) mungkin mendapat uang ‘karcis masuk’ dari orang-orang-asing tersebut untuk mengunjungi kaum miskin dan melihat kehidupan mereka.

Aku melihat tayangan tersebut malu, kenapa malu? Karena negara yg sebesar dan sekaya ini masih ada orang miskin, dan yg lebih ironis lagi tempat tinggal orang-orang miskin dan papa dijadikan tempat kunjungan wisata bagi orang asing. Apakah bangsa ini masih punya HARGA DIRI dan RASA MALU? Apa mungkin HARGA DIRI dan RASA MALU itu sudah digadaikan hanya demi kepentingan pribadi dan golongan? Aku harus marah dengan siapa? Ini salah siapa? Wallahu a’lam…